1.Tes Intelektual, terdiri dari :
- CFIT (Culture Fair Intelegence Test) = untuk mengungkap kemampuan mental umum
- TIU (Tes Intelegensi Umum) = untuk mengungkap kemampuan mental umum
- TKD (Tes Kemampuan Dasar) = untuk mengukur kemampuan dasar individu
- AA (Army Alpha) = untuk mengetahui daya tangkap / daya konsentrasi orang
- ADKUDAG (Administrasi dan Keuangan) = untuk mengetahui kemampuan administrasi dan keuangan
- IST (Tes inteligensi) yang terdiri dari 9 subtes didasarkan pada
anggapan bahwa strutktur inteligensi tertentu cocok dengan pekerjaan
atau profesi tertentu.
2.Tes Kepribadian
- EPPS (Edwards Personal Preference Schedule) = untuk mengukur
kepribadian orang dilihat dari kebutuhan-kebutuhan yang mendorongnya (16 faktor)
- DAM&BAUM = Draw A Man Tes (Tes Gambar Orang) ; untuk
mengetahui tanggung jawab, kepercayaan diri, kestabilan dan ketahanan kerja
- WARTEGG = untuk mengetahui emosi, imajinasi, intelektual dan aktifitas subjek
- Tes Pauli = untuk mengukur sikap kerja dan prestasi kerja (daya
tahan, keuletan, sikap terhadap tekanan, daya penyesuaian, ketekunan, konsistensi, kendali diri)
- KRAEPLIEN = untuk mengungkap ketelitian,kecepatan, kestabilan dan
ketahanan kerja
- RM (The Rothwell Miller) = untuk mengetahui minat seseorang terhadap jenis pekerjaan
- PAPI Kostick = untuk menjabarkan kepribadian dalam 20 aspek yang
masing-masing mewakili need atau role tertentu, tinggi rendahnya need
atau role tertentu mempunyai arti yang spesifik. Konfigurasi yang
diperoleh adalah gambaran dari pilihan testee yang bermuatan need atau role; dan dibandingkan dengan need atau role lain dalam keseluruhan sistem kepribadian berdasarkan persepsi testee atas dirinya sendiri.
*. Wartegg Test
Pernahkah anda ikut psikotest dan disuruh menggambar atau melengkapi gambar delapan kotak diatas (Wartegg Test)
Pada saat Anda menjalankan Wartegg Test, Anda akan diberi selembar kertas yg berisi 8 kotak yg ada stimulus2 nya, kemudian Anda akan diberikan perintah untuk melengkapi dari gambar yg ada di kotak tersebut.
Isi dari masing2 gambar :
gbr 1. berupa titik ditengah kotak : ini menyangkut hal2 yg
berhubungan dengan penyesuaian diri yaitu bagaimana seseorang
menempatkan diri dlm lingkungan
gbr 2. berupa ~ tp berada di kotak sebelah kiri : menunjukkan
fleksibilitas perasaan.
gbr 3. berupa 3 garis horisontal dr pendek, sedang tinggi sejajar:
mengukur hasrat untuk maju/ ambisi
gbr 4. berupa kotak kecil di sebelah kanan : mengukur bagaimana
seseorang mengatasi kesulitan
gbr 5. seperti huruf T tp miring (susah gambarin nya) : mengukur
bagaimana cara bertindak.
gbr 6. berupa garis horisontal ; vertikal : mengukur cara berpikir /
analisa; sintesa
gbr 7. berupa titik2 : menyangkut kehidupan dan perasaan ( apakah
sudah stabil, kekanakan)
gbr 8. berupa lengkungan : mengenai kehidupan sosial/ hubungan sosial
Jika anda pernah bertanya-tanya apa fungsi test melengkapi gambar diatas dan apakah test diatas sebenarnya adalah untuk mencari tahu siapa diantara peserta yang paling pintar menggambar.
Ternyata test diatas bukan untuk mengetahui kemampuan menggambar
Anda melainkan hal tersebut merupakan salah satu cara dari beberapa
cara yang lain yang digunakan oleh psikolog untuk mengetahui
kepribadian Anda dari cara Anda menggambar.
Test Wartegg mengharuskan peserta untuk melengkapi gambar yang
terdiri dari 8 gambar, 4 diantaranya berupa garis lurus (Gambar III,
IV, V, dan VI) dan empat lainnya berupa garis lengkung (Gambar I, II,
VII, VIII). Menurut informasi dari buku, internet menyatakan bahwa garis melengkung sebaiknya diisi dengan mahkluk hidup dan garis lurus diisi dengan benda mati. Apakah ini benar ?
Selain itu menurut informasi yang didapat juga menyatakan, dari cara Anda menggambar akan terlihat apakah Anda seorang yang keras kepala, tidak terorganisir,dll. Semuanya terlihat dari kebersihan, kerapian, tekanan pensil dan sebagainya. Test ini juga mampu untuk mengungkapkan kemampuan IQ anda, dari hasil apa yang Anda gambar.
* BAUM Test
Draw A Man Tes (Tes Gambar Orang) ; untuk mengetahui tanggung jawab, kepercayaan diri, kestabilan dan ketahanan kerja.
BAUM Test termasuk dlm test Grafis. Mungkin Anda pernah menjalani test dimana Anda diberi kertas kosong dan diminta untuk menggambar pohon, dan dikertas lainnya diminta menggambar orang.
Yang dinilai bagus atau tidaknya gambar tersebut, melainkan besar-kecil gambar, tarikan garis (tegas atau tidak atau patah2), letak gambar (kanan-kiri, atas-bawah, atau center). Biasanya Anda juga diminta untuk memberikan keterangan pohon apa yang digambar, kalau orang ( dia lagi melakukan apa dan jenis kelaminnya apa). Tiap2 gambar ada artinya.
* Tes KRAEPPELIN dan PAULI
tdk ada perbedaan… semua berisikan kertas dan angka yg membedakan hanya cara dan jumlah isinya…..dan KRAEPPELIN memiliki jumlah deret angka yg lbh banyak, biasanya sang psikolog hanya menginstruksikan “pindah” pada waktu tertentu dan berbeda2 utk melihat daya tahan otak dan konsistensi. ….
Pada saat Anda menjalankan test ini pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana para psikolog itu memeriksa hasil test ? Karena tulisan yang dibuat mungkin kecil, berantakan, dan banyak. Ternyata dari informasi yang didapat dari buku, internet dan orang-orang psikolog bahwa mereka mempunyai teknik tertentu dalam memeriksa hasil test ini, yaitu dengan mengabaikan kolom2 tertentu dan mengecek kolom2 tertentu juga.
Namun demikian, tes psikolog hanyalah merupakan suatu alat buatan
manusia untuk mengetahui kepribadian seseorang secara umum saja. (Menurut saya taksiran).
Kesimpulan yang dihasilkannya boleh jadi berbeda dengan kepribadian
yang sesungguhnya. Hal ini diakui oleh para psikolog sendiri bahwa
tidak ada satu pun tes di dunia ini yang benar-benar akurat dapat
menilai kemampuan dan kepribadian seseorang.
Adv
Indonesian Made is proud to introduce Indonesian products to the world
103 responses so far ↓
1
helmy
// Apr 17, 2009 at 4:23 am
waduuuh.. tenkiyu bguangett buwat info nya
Well-loved. Like or Dislike:
7
2
2
ZAINORITA ZAWAWI
// Apr 27, 2009 at 2:36 am
Hidden due to low comment rating. Click here to see.
Poorly-rated. Like or Dislike:
1
7
3
Ayu
// Apr 27, 2009 at 6:10 am
Hebat sekali ya Anda,,
sebenarnya tahukah anda dengan KODE ETIK???? lihat lagi kepada diri Anda, dimanakah mental dan moral Anda?
Seberapa pun Anda memanipulasi jawaban tetap saja kami (Psikolog) memiliki cara yang dapat melihat kepribadian seseorang.
Jika ingin membantu orang lain, bukan begini caranya..
Jadilah diri sendiri ketika menjalani tes psikologi dengan begitu Anda memperlihatkan kepribadian Anda yang sesungguhnya berikut pula dengan nilai-nilai positif yang menonjol dalam diri Anda, tidak perlu manipulasi..
Hot debate. What do you think?
33
31
4
ANDRE
// Apr 30, 2009 at 3:08 am
enak aja orang malaysia mau minta contoh tes wartegg,, jangan ada yang kasih, ya !!!
yang ada ntar malah di pakai buat dia disana dijual dan lain-2 lagi,, masih ingat kan kasus pembajakan batik indonesia oleh orang malaysia yang bisa nya cuma ngejiplak aja..??? Malaysia ga Inovatif dan kreatif bisanya cuma ngejiplak, dasar negara dan rakyat mental kere’ huch !!!
Well-loved. Like or Dislike:
12
5
5
tio
// May 4, 2009 at 5:50 am
Maksud AYU apa ya…?
Hot debate. What do you think?
5
3
6
risma
// May 7, 2009 at 1:41 am
Hidden due to low comment rating. Click here to see.
Poorly-rated. Like or Dislike:
13
19
7
Angelo
// May 7, 2009 at 8:41 pm
How on earth is a blog post with general information about psychology tests in any way unethical? If these tests break down simply because people knows what is in them, then they’re worthless.
Of course that’s not true. This information is easily available, and it doesn’t affect the results of the test.
Hot debate. What do you think?
6
3
8
melisa
// May 11, 2009 at 2:45 am
profesiku bukan psikolog. Yang pasti informasi ini aku dapat dari internet. Informasi ini tersedia dan bisa didapat dengan mudah, bahkan ada yang menjelaskan lebih detail dari yang aku post. Aku tidak menjelaskan sedetil yang aku dapat, karena aku mengerti batas-batas secara umum (walaupun aku tidak tau etika psikolog itu apa).
Yang aku post di sini adalah pertanyan2 yang timbul saat aku ikut test. Kalo dengan beberapa alinea sudah bisa mengungkapkan hasil dari test psikolog, maka bukannya itu menjadi pertanyaan ?
9
nissa
// May 13, 2009 at 2:41 am
hai melisa, lam kenal…
etika psikolog itu (biasa disebut kode etik psikologi ) merupakan serangkaian aturan main yang perlu dipahami oleh para psikolog sama kayak dokter, pengacara & apoteker juga. biar ga terjadi malpraktek.
salah satu malpraktek yang terkait di bidang psikologi adalah informasi seputar alat tes dan kegunaannya terhadap para klien kita. Etika tersebut tertuang di bab III pasal 7 tentang pelaksanaan kegiatan sesuai batas kewenangan, pasal 12 tentang kerahasiaan data dan juga pasal 16 tentang penggunaan dan penguasaan pengukuran psikologik. Meskipun alat tes bukan the only one sarana untuk membuat suatu keputusan final, tapi keberadaannya penting untuk mendapatkan info yang seobjektif dan seakurat mungkin. jadi kalo alat tes ini datanya udah dimanipulasi maka hasilnya bakal ga bagus tidak hanya buat perusahaan or sekolah itu aja, tapi juga si pelamar or siswa itu sendiri kedepannya. Semoga info ini bisa jadi pertimbangan buat yang lain untuk tidak melihat alat tes sekedar jadi alat ujian semata tapi untuk saling menghargai profesi orang lain.
Well-loved. Like or Dislike:
13
6
10
edward
// May 13, 2009 at 9:47 pm
Saya jadi berpikir, ayu dan risma sebenarnya apa profesinya…???
Tulisan melisa biasa aja kok, banyak kita temukan di blog lain, tetapi ditanggapi dengan segitu dalemnya ya? Tinggal ketik EPPS di mbah google, keluar deh.
Justru karena anda berdualah yang membuat seakan2 tulisan melisa merupakan pernyataan lugas, analisa nyata dari pengungkapan tes psikologi.
Selamat ya mel, untuk hari2 ke depan blog kamu bakal rame dikunjungi pencari psikotes.
Selamat juga untuk ayu dan risma. what a conspiracy!
Well-loved. Like or Dislike:
17
0
11
sama
// May 25, 2009 at 12:21 am
cukup byk tools / applikasi yg bisa di gunakan utk menentukan tentang diri manusia sendiri seperti apa type orang tsb, jd intinya tuhan telah memberikan di setiap manusia karater orang yg berbeda2 jadi jgn suka memanipulasi hasil.so be your self deh.
masukan2 yg di tulis sama mba/mas di artikel ini , semoga tidak menjadi perselisihan,,, ok
Like or Dislike:
0
2
12
ikanmas
// Jun 7, 2009 at 8:39 pm
perasaan tulisan blog ini cuma mengungkapkan berbagai macam tes itu gunanya dimaksudkan buat apa, bukan cara interpretasi dari masing2 jawaban, yang biasanya menjadi titik penasaran para pelaku psikotest2 ini.
jadi apa salahnya sih? it’s a common knowledge gitu…not something confidential…
Well-loved. Like or Dislike:
5
1
13
sieva
// Jun 14, 2009 at 12:14 am
Gitu aja kok pada takut….saya jadi ragu, sebenarnya pada kuliah psikologi beneran atau ngga? kalo misalnya jawabannya sudah diketahui orang, tinggal diganti aja tipe soalnya, kan mudah…gunakan ilmu yang dulu sudah dipelajari…baik kedokteran atau jurusan lain pun mempersilahkan orang lain untuk belajar tentang ilmu di dalamnya…dokter boleh aja membangun rumah sendiri, kalo dia yakin keamanannya…kalo dia bisa ngerancang sendiri, dia juga ngga pelu arsitek…semua kan gampang aja…yang penting mau terus berkembang, ilmu bocor satu harus tambah seribu…
Hot debate. What do you think?
6
4
14
emilia
// Jun 14, 2009 at 1:45 am
Guys, i think the negative comment just show that maybe many of the psychology major student should leave their old psychological book and browse more on Mr Google
There are many kind of inteligence test and the one want to use it for their own needs should search for a test that still have good validity and reliability.
For personality test.. like they said.. Psychology is an art…
Well-loved. Like or Dislike:
8
2
15
nezt
// Jun 24, 2009 at 4:17 am
sebenernya bukan masalah takut ato tidak…smua trgantung dari hati nurani masing2…kalo emang kita brpegang pd kode etik…buktinya banyak orang yg share di web jg ga knapa2?
Like or Dislike:
3
2
16
akoeng
// Jul 7, 2009 at 2:07 am
kok jd repot gini sih..!! yg merasa psikolog ngerasa pst ini menyalahi kode etik… (bener ga sih???) buktinya banyak kasus para profesionalnya sendiri yg menyalahi kode etik, salah satunya dokter yg paling sering diberitakan menyalahi kode etik profesi… kalo anda merasa jd profesional psikolog dan kalo post ini menyalahi,kasih tau juga dengan kode etik yg santun bukan dengan “sok gue”.
saya jd miris dengan sikap para profesional termasuk psikolog kalo memberikan advis “terserah gue”, saya pny banyak temen psikolog tp biasa aja kalo memberikan advis tentang salah ato bener..
Well-loved. Like or Dislike:
5
1
17
Go Melisa
// Jul 12, 2009 at 9:18 pm
Saya malah bingung kalau suatu ilmu ditutup-tutupi, artinya ada “apa-apa”. Saya malah takut, kalau alat ini malah di-”dewa-dewa”-kan. Kode etik yang dimaksud dalam pasal tersebut adalah jika seorang psikolog membocorkan masalah/data/hasil konsultasi klien/orang lain untuk kepentingan yang tidak layak. Toch, jika seseorang tahu jawabannya, tidak menjadi jaminan bahwa dia bisa sukses, karena ada faktor lain yang harus dinilai..tidak kaku gitu,mbok…
Well-loved. Like or Dislike:
9
1
18
STEVE Lou
// Jul 18, 2009 at 4:06 am
Psikologi jenis apa yang mampu menilai sedalam apa daya fisik, mental, logis, emosi, dan semangat. psikologi hanya ilmu untuk mempelajari manusia, dan psikolog adalah orang yang bekerja dengan aturan ilmu psikologi. pertanyaan saya……. sudah berapa jauh anda dan semua yang menulis comment di blog ini mempelajari ilmu psikologi…… bisakah kalian menembus daya logika seorang kriminal seperti saya….. pengalaman ter hebat saya adalah bisa lewat dari lie detector…. apakah kalian lebih pintar dari lie detector…..?????
Like or Dislike:
4
3
19
ALDI
// Jul 18, 2009 at 6:20 am
GW…… salut mampus sama lo…..
LO….. dah menolong orang yang nge blank…..
Menyelamatkan orang dari kebingungan nggak jelas…
apatu KRAEPLIEN,EPPS,WARTEGG……?
tadinya gw gak tau jd tau….
wawasan orang awam dapat bertambah…. dan harusnya…. yang marah2 di atas…. harus menjadikan ini tolak ukur pendidikan mereka……
gw heran…. ampe ada yang bawa2 kode etik.
mangnya ilmu psikologi cuma sampe pada soal quizsioer…. He…he…he…. (ketauan yang marah ilmunya masih dangkal).
JIwa lo mang langka…….
teruskan perjuanganmu Demi Ilmu pengetahuan, Dan kemanusian,
FREDOME For Life, Peace For All
Well-loved. Like or Dislike:
7
2
20
hiko
// Jul 19, 2009 at 9:27 pm
saya setuju bahwa Psychology is an art, tapi lebih setuju lagi tidak hanya psikologi, ilmu lain bahkan hidup adalah ART. Kalo masalah kode etik ya silakan aja dibahas, tapi yang harus diingat yang namanya alat ukur kita harus tau dan (kalau bisa) dapat mengontrol kesalahan dalam hal ini BIAS.
Karena alat ukurnya itu2 saja ada kemungkinan hasil seseorang bukan karena kemampuannya namun lebih karena udah sering (repeated measurement). Apalagi manusia tidaklah statis, selalu berkembang. Dan saya yakin psikolog bukan orang biasa mereka kompeten dalam bidangnya. 1 hal yang penting karena sudah menjadi hakikat manusia lebih pintar melihat kesalahan orang lain dibandingkan kesalahan sendiri.
Mohon maaf bila ada yang tersinggung, semoga ilmu kita bertambah.
Like or Dislike:
3
0
21
yayan
// Jul 25, 2009 at 1:51 am
kalo mnurutku, sebagai salah satu orang yang belajar ilmu psikologi, nggak ada salahnya kok kalo melisa memuat tulisan kayak gitu… sah2 aja. tanpa melisa muat juga aku yakin, banyak orang yang mencoba untuk mencari tahu soal alat2 tes psikologi. so, what’s the matter????
lagi pula, menurutku, apa yang dimuat melisa bukanlah cara untuk memanipulasi alat tes psikologi. tapi lebih pada informasi. that’s all. nggak usah dibesar2 kan lah… kalaupun ada manipulasi, kita (psikolog) harusnya kan tahu.
Well-loved. Like or Dislike:
7
0
22
kapal feri
// Aug 19, 2009 at 10:44 pm
makasih buat info tes psikologinya
aq masi penasaran sama tes 225 soal itu, ab ab ab semua mpe demam aq ikut tes itu n tes panah atas bawah itu juga masi misteri buat aq
Like or Dislike:
2
0
23
eroul
// Aug 22, 2009 at 10:28 pm
Hidden due to low comment rating. Click here to see.
Poorly-rated. Like or Dislike:
2
5
24
Alvin
// Aug 25, 2009 at 8:43 am
Ayu dan Risma kemana nih ga brani nongol lagi?
Dumb ass!
Like or Dislike:
2
2
25
putri
// Sep 6, 2009 at 10:13 am
hmmm,
sbg org yg terlibat dlm pembelajaran psikologi,
sebenernya saya cukup tersinggung dgn pembocoran tes psikologi.
tp, saya tdk menyalahkan meilisa atopun temen2 yg laen yg sdg butuh info ttg psikologi.
kebocoran tes2 psikologi mmg berakar dr kesalahan psikolog nya sendiri,
jd ya terima saja risiko seperti ini.
so, utk temen2 para calon psikolog dan psikolog, mudah2an qt (psikolog di masa yg akan dtg) bs jd psikolog yg lbh mampu utk berkomitmen menjaga kode etik.
mslh yg sudah terjadi, tidak usahlah diributkan lg.
buat temen2 yg di luar psikologi, sebanyak ato selengkap apapun info yg gak sengaja kalian dpt ato dgn sengaja mencari info (bahkan terkadang dgn cr membayar) ttg tes psikologi, saya harap kalian bs jujur sendiri.
krn alangkah lbh lega dan puas kan klo qt mendapatkan hasil krn kerja keras qt sendiri, sebab itu tandanya qt punya harga diri yg tinggi, percaya sm kemampuan diri sendiri yg udah dikaruniakan Tuhan ke qt.
oke, oke….
mari qt berdamai semuanya.
peace! ^_^
Hot debate. What do you think?
5
4
26
Anto aja
// Sep 7, 2009 at 4:02 am
Salam kenal untuk semuanya…
Saya seorang praktisi kesehatan yg juga memiliki kode etik koq. Saya menyangkut kode etik, saya akan membeberkan hanya kepada pihak2 yang berkompeten saja.
Namun tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kemajuan teknologi telah ‘menelanjangi’ semuanya. Bahkan dibidang psikologi sekalipun.
Coba klik link dibawah ini:
http://ggkarir.com/_karir.php?_karir=contoh-psikotes-1
Semuanya lengkap tentang psikotes.
Yang penting adalah; istirahat dengan amat sangat cukup sebelum mengikuti psikotes agar dapat mengerjakan secara fokus, tenang dan konsentrasi tinggi.
Semoga berguna.
Like or Dislike:
2
1
27
ARNOLD
// Sep 10, 2009 at 5:00 am
ko ada yg treak2 ga senang c…
bukanny dengan adany postingan seperti ini membuat para psikolog utk lebih cerdas lg????…masak alat test dah dr taon jebot masih mo dipk jg???…berkembang donk!!!!!…
Like or Dislike:
4
2
28
dick
// Sep 24, 2009 at 4:19 am
bagus jg infonya…..jgn sampai ke malaysia ntar di akuin lho…..
Like or Dislike:
2
0
29
lala
// Sep 25, 2009 at 12:06 am
Hai All..
Salam kenal yah. Saya juga termasuk orang yg mendalami psikologi sbg ilmu major saya.
Jika sdh bgini, yg terjadi biarlah terjadi. Semua berawal dari rasa keingintahuan dari orang-orang non-psikologi.
Nah, terlepas dari masalah ini, saya cuma mau bilang bahwa biar bagaimanapun jg psikotes itu tidak perlu ada manipulasi. Intinya alat-alat tes kami hanya memfasilitasi Anda (atau organisasi yg membutuhkan, spt perusahaan, sekolah, dll) untuk melihat potensi yang ada miliki. Justru dgn psikotes, Anda bisa tau kelemahan & kelebihan Anda, so you’ll know what you have to do next.. apa yg bisa Anda ‘jual’ dari kelebihan pada kepribadian Anda & apa yg bisa Anda kembangkan lg dari kelemahan yg Anda punya.
Contoh: jika Anda akan masuk ke suatu perusahaan dgn melalui proses psikotest, itu artinya perusahaan tsb ingin melihat potensi yg ada dlm diri calon karyawannya. Dari hasil psikotes dilihat apakah Anda sesuai dgn kriteria perusahaan. Initinya, psikotest ingin ‘mencocokkan’, apakah calon karyawan ‘fit’ dgn perusahaan, atau sebaliknya apakah perusahaan ‘fit’ dgn calon karyawannya. Jika ada manipulasi, kemungkinan ‘pendek jodoh’ antara calon karyawan dan perusahaan semakin besar. Ibaratnya seperti sesuatu yg ‘dipaksain’. Jika bgitu, secara tidak sadar Anda dan/atau perusahaan ybs juga akan berat untuk menjalani kerja sama dalam konteks pekerjaan.
Selain itu, psikotest tdk hanya melulu didasarkan pd pengetahuan testee (peserta psikotes) ttg alat tes itu sndiri – walaopun kemungkinan ‘bias’ ttp ada – tapi juga ada pengaruh lain seperti keadaan fisik & mental Anda sebelum psikotes, kecemasan yg tjd saat psikotes, konsentrasi, dll.
Sgitu aja informasi dari saya, smoga berguna & bisa sedikit menengahi perseteruan yg ada yah.
Salam,
Well-loved. Like or Dislike:
6
0
30
Kopral
// Oct 24, 2009 at 10:45 pm
Weleh2, Ayu, Risma kayaknya baru semester I blom UTS lagi
. seharusnya komentarnya jangan kaya gitu… Menandakan kalo anda2 masih blom dalam (apalagi mendalami) ilmu psikolog. Ntar kalo dah jadi Psikolog sejati pasti komentarnya jauh berbeda…Selamat belajar terus yah Ayu dan Risma…,
Well-loved. Like or Dislike:
6
1
31
asthie
// Oct 26, 2009 at 7:48 am
Hei…thx ya informasinya…..dulu aku sering banget ikut test semacam ini waktu baru lulus kuliah sampai hapal, sekarang setelah 10 tahun tiba-tiba aku dihadapkan kepada test psikologi lagi. Kalau setelah sepuluh tahun soalnya masih sama (waduh aku no comment ya)…..yang pasti setelah baca tulisan ini setidaknya aku tahu test nya tujuannya untuk apa hanya sebatas itu, saya rasa sangat membantu sekali sebagai salah satu persiapan. Menurut keterangannya bersifat umum kok.
Like or Dislike:
0
0
32
astrid
// Nov 4, 2009 at 9:37 am
hahahaaha..sy lg ambil studi bt jd s.psi..ad tugas buat cri kasus pelanggaran kode etik..sy ketik “pembocoran alat tes psikologi”..dan ini link yg ad di urutan paling atas..
kl sy blg,yg td dsebutin melisa itu bukan pembocoran alt tes..cm ngasih tau mcm2 alat tes n kegunaannya..kl ngebocorin alt tes tu y bnr2 nyertain konten yg ad ddlm alt tes itu
mgkn stlh bca berbagai artikel ttg psikotest,tmn2 jd tau n bs bljr gmn cr ngjawab tes2 tersebut..tp bkn itu sbnrny yg qta cri..pd bbrp jenis tes,qta ga nntuin benar ato slah ny jawaban, tp pngn nggali daya inisiatif, kreativitas dan sebagainy..
wlpun sblmny temen2 udh pny prsiapan jwbn krn sblmny bca “pedoman mengerjakan psikotest”..itu ga akn mmberikan prbedaan yg signifikan sma hsil tes ny..krn setiap tes itu sdh dikondisikan brdasarkan kriteria trtentu.
mgkn yg udh bbrp kali ikt psikotes bs diinget lg..psti urutan pmberian tes slalu sma,,krn emg ad hal laen yg udh dperhitungkan slaen “bnr-slh” ny jawaban..contohny ky ketahanan emosi saat bekerja dbawah tekanan..kemampuan abstraksi..kpekaan terhadap keadaan sekitar..dll..
jd gt aj de..sy mw lanjut cr tugas lg..hehehe..tingkyu ^^
Well-loved. Like or Dislike:
6
0
33
lisa
// Nov 16, 2009 at 10:48 am
menurut g…..
gk ada y selah dengan tulisan y di buat melisa…. toh dia hanya memberikan gambaran,,, bukan jawaban,,,,
tes Psi,,,
seharusnya di jalankan dgn kejujuran
arti nya..
apapun jenis alat tes y di gunakan dan pertanyaan apapun y hrs kita jawab…
jawablah dengan sederhana… seperti cara pandang y kita miliki,,,
tdk perlu meniru jwb an org lain…
karena… setiap manusia berbeda…perbedaan itu lah yang membuat keunikan dalam diri kt,,,,
lisa Fiani. S,Psi
Like or Dislike:
0
1
34
awam
// Dec 9, 2009 at 1:45 pm
klo mnurut saya, tlisan ini gag bermasalah…
suatu dktakan mlnggar kode etik psikologi jika psikolog atau ilmu psikologi melanggar salah satu pasal yang ada dalam kode etik tersebut. kalo tentang tulisan diatas menurut saya hanya sekedar informasi umum mengenai tes psikologi yang siapa saja bisa mendapatkan informasi tersebut secara mudah (lwat google ato media lainnya). beda cerita kalo ditulisan ini ada cara-cara penilaian atau kunci-kunci dari setiap alat tes tersebut.
eh, tapi ini hanya menurut saya saja..kalau ada yang gag suka yaa…saya mohon maaf.. ^^
Like or Dislike:
2
2
35
Santo
// Dec 12, 2009 at 3:07 am
memangnya berbagi ilmu itu salah ya??
kenapa msh ada orang yang mementingkan kode etik daripada mementingkan untuk mencerdaskan orang/memberi pengetahuan…..
di indonesia ini banyak yang tidak lulus tes kerja karena psikotes ini……padahal kalo dipikir” psikotes itu ga akan pernah pasti bisa hasilnya akurat 100%…..
Like or Dislike:
2
3
36
Agung
// Dec 17, 2009 at 6:37 pm
Melisa: Ga ada yg salah ko, dia cmn punya niat baik, ngasih tau kita, dia ga bermaksud buat mendiskreditkan ilmu PSIKOLOGI. Mungkin dia ga tau aja bahwa postingnya ini “melukai” para calon psikolog. so, kalod ia ga tau wajar kan?
Ayu, Risma: Mereka jg ga salah, sifat defensif mereka wajar keluar, maksudnya mungkin menjaga nama almamater ilmu yg mereka pelajari, yaa kaya kita aja jaga nama baik Indonesia di mata dunia, niatnya betul, tapi yang salah mungkin cara penyampaiannya, kalo lebih smooth, mungkin comment2 yg membentuk “blok Mellisa” dan “blok Ayu, risma” tidak terjadi.
Coba saling menghormati perasaan lah, positive thinking, jangan suudzan sama orang.
Like or Dislike:
3
0
37
Obelix
// Dec 22, 2009 at 2:06 pm
halo semua
rasanya seru melihat blognya mbak melissa, saya berpendapat seperti rekan ASTRID, bahwa ini bukan pembocoran karena memang content dari test sendiri tidak ter-expose sehingga yang kita tahu hanya nama metode dan tujuannya saja.
saya lebih melihat ini sebagai diskusi, teman2 S. Psi juga banyak yang memberikan komentar secara professional dan saya sangat setuju dengan mereka.
mungkin memang benar bahwa sifat dasar manusia salah satunya bisa melihat kesalahan orang lain tapi susah merasakan kesalahan yang diperbuat oleh dirinya sendiri, sehingga perlu adanya introspeksi diri.
manusia seperti 2 sisi dimana 1 sisi adalah ‘learning organism’ dan sisi lain adalah ‘lazy organism’, ada kala nya mereka akan belajar dan ada masa nya mereka akan berhenti belajar dan mengamati, dari kondisi ini maka semua yang dilakukan di nyatakan oleh manusia, dipengaruhi banyak hal, termasuk persepsi, ilmu pengetahuan yang dimiliki, pengalaman, asumsi, kondisi lingkungan, EMOSI, pola pikir dan beberapa hal yang membentuk kondisi seseorang ketika kecil hingga dewasa, termasuk metode pendidikan, dan lingkungan.
Jadi alat test ini adalah buatan manusia, pasti punya kelemahan dan kekurangan, bagaimana setiap orang ingin melalui psikotest tergantung dari keperluan dan kesadaran mereka juga, manusia adalah mahluk paling sempurna dan unik, ada banyak rahasia yang mungkin susah di tebak dari setiap manusia, termasuk bagaimana penjelasan tentang melewati lie detector.
Ayu dan Risma suatu saat akan belajar bagaimana menyampaikan pendapat, walaupun akan susah proses nya kalo di lihat dari model pernyataan mereka seperti diatas, woww no offense but i am not one of you, karena BIJAKSANA itu menurut saya didapat dari pengalaman, mau bersusah payah berpikir, empati, mengenali pola, bersyukur, sabar dan yang jelas tidak antipati terhadap sesuatu.
good luck melissa
Like or Dislike:
3
0
38
nadia
// Dec 24, 2009 at 10:39 am
ehm…mau kasih pendapat juga…
saya mahasiswa psikologi semester 5 mau kasih pendapat aja…
klo ada yang salah saling kasih tau aja yawh…cz kita sama-sama belajar aja dari informasi-informasi yang ada…
menurut aku melisa enggak melakukan pembocoran alat tes psikologi kok….
karena yang dicantumin sama dia cuma informasi aja,kecuali klo melisa cantumin soal-soalnya semua trus lembar jawaban n interpretasi jawabannya…
nach..itu baru pembocoran yang memang melanggar kode etik psikologi…
ini khan cuma kasih tau tes ini untuk apa n bentuknya seperti apa itupun secara umum gak mendetail seperti apa?!!
lagipula setahu saya mau individu itu belajar alat tes berkali-kali..
potensi dalam diri seperti apa tidak akan berubah kok!?!
saya setiap hari belajarnya alat tes terus…tapi waktu ada tes psikologi juga IQ gak berubah jadi superior atau genius kok..^_^
buat ayu n risma:
aku juga tau maksud kalian gak pingin khan ilmu kita yang susah-susah dipelajari bocor gitu aja khan…maybe ada salah persepsi dari kalian tentang tulisan melissa ini, ada baiknya kita sebagai calon-calon psikolog juga sama-sama belajar khan,sama-sama belajar buat jadi lebih bijaksana juga khan^_^
buat semuanya..
thanx yawh…
maaf-maaf klo salah kasih pendapat…
peace^_^
Well-loved. Like or Dislike:
12
1
39
nakulasadewa
// Dec 26, 2009 at 11:29 pm
tau ngak kalo dipasaran udah ada buku tentang psikotes.malahan aku pernah dapat informasi dari buku, tentang gambar orang yang bagus digambar seperti apa, tangan, kaki pake dasi atau ngak..
gambar pohon juga, jadi ngak usah terlalu dipermasalahin.
Like or Dislike:
0
1
40
Hibban
// Dec 30, 2009 at 5:11 am
Syukria infonya..
Like or Dislike:
0
0
41
pam
// Jan 1, 2010 at 12:42 am
Hidden due to low comment rating. Click here to see.
Poorly-rated. Like or Dislike:
0
3
42
Mari Bisnis Yuk
// Jan 8, 2010 at 3:36 am
banyak hal penting yang diadapat disini, semoga psikotest nanti berjalan dengan lancar. Thanks.
Like or Dislike:
0
0
43
leon
// Jan 9, 2010 at 6:54 am
gw…..cma mw ikut komentar !!! ju2r gw paling g suka yng namanya psikotest….coz yang gw tau para pengetes hanya melihat berdasarkan jawaban yang telah dibuat…contoh ketika seorang mengikuti test wartegg..pengetes hanya melihat dari jawaban yang qt buat…padhal seharusnya yang gw ingin psikotest th adalh menjawab kenapa orang menjawab sperti ini, itu dan itu ….dan kenapa mereka jawab begitu !!! th yng harus di cari tw dan selesaikan, bukannya menilai seseorang dengan jawaban yang telah tersedia dari pengetes…..jika dia jawab ini duluan atw gambar yng ini duluan berati yang di tes orngnya seperti ini…. jika jawabnya yng lain lagi bearti dy org nya begini….pdhal yng gw ingin tw adlah kenapa orang jawab yng ini dluan, th lah yng seharus nya yng diteliti oleh para pengetes !!! th baru menurt gw psikotest, bkan mengikuti jwban yng telah dilnilai duluan….
1…lg psikotes hnyalah salah satu dari tes…dan tes masih belum tentu dapat benar dengan kepribadian seseorang sebenarny…
Like or Dislike:
3
0
44
leon
// Jan 9, 2010 at 6:56 am
go melisa, chiaoooooooo …. !!! tlong share lag kalo ada info okeeeeeeeeeeeee….
Like or Dislike:
0
0
45
Hendra
// Jan 16, 2010 at 2:50 pm
1. Menurut saya Melisa ga salah karena memberikan informasi diatas dengan tujuan ingin berbagi pengetahuan.
2. Dan saya cukup yakin bahwa beliau itu bukan seorang psikolog atau pelajar jurusan psikolgi.
3. Informasi sejenis ini dapat dicari dengan mudah di google ataupun buku” tes psikologi yang beredar di toko buku
4. Para psikolog seharusnya tidak perlu berfikir bahwa dengan informasi diatas seorang kandidat akan memalsukan karakter aslinya dan sebagainya. karena pada keadaan psikotest itu tersendiri mungkin berbeda dengan kenyataannya. (tidak mungkin 100%)
secara logika ialah:
seseorang yg kurang mahir atau kurang berminat dengan permainan angka akan dinilai bahwa dia tidak memiliki keuletan atau kestabilan (salah besar) bisa jadi dia akan ulet pada bidangnya yg dia lamar yg sebenarnya tidak berkaitan dengan angka.
Orang yg tidak pandai atau tidak ahli serta kurang kreatifitas menjawab tes yg berkaitan dengan gambar. Lalu disimpulkan bahwa kepribadiannya ….
tidak sepenuhnya benar juga bukan?
seharusnya seorang psikologi bisa membaca karakter seseorang dengan instinct nya ketika melakukan interview. meskipun hasil psikotest bisa dijadikan barometer tetapi saya harap itu tidak menjadi nilai mutlak untuk melanjutkan ke proses penyaringan berikutnya. kecuali kandidat tersebut memang terbukti tidak bisa menyelesaikan hal atau pertanyaan yang sangat mudah.
Like or Dislike:
1
0
46
hanz
// Jan 21, 2010 at 2:54 am
tools recruitment yg ditampilkan melissa saya kira yang paling umum dan mudah dimanipulasi, jd ga usah terlalu dikecam seperti itu.kalo anda memang HRD profesional.. untuk mengukur kemampuan karyawan bisa dilihat dari proses trainingnya karena disitulah kenyataan karyawan itu kompeten atau tidak.dan bukan background psikolog saja yg merasa paling pas untuk menilai kriteria karyawan.HRD latar belakang management HR bisa dijadikan contoh dalam menjalankan fungsi HR. simple khan chaioo melissa
Like or Dislike:
3
0
47
so'enk
// Jan 21, 2010 at 12:00 pm
eeeuuuuhhh……inimah orang mau bantuin nolongin ngasih tau ama yang gak tau malah diributin….!!!
makanya sebaiknya baca dolo dunk trus disimak maksud dan tujuannya gimana…….piss…ah..
Like or Dislike:
1
3
48
Gomez
// Jan 22, 2010 at 12:55 am
KALIAN PSIKOLOG YANG MENJELEK-JELEKKAN MELISA ATAU MEMBERIKAN KRITIK NEGATIF BUAT MELISA ITU JANYA OMONG KOSONG. JUSTRU DARI MELISA KITA TAHU FAKTANYA BAHWA BANYAK PARA PSIKOLOG YANG TIDAK MEMEGANG KODE ETIK SEHINGGA BOCOR INFORMASINYA SAMPAI KE MELISA. KALO SUDAH BEGINI BUAT APA HIMPSI DIDIRIKAN ? LENGSERKAN SAJA PENGURUS HIMPSI KLO TIDAK BISA MENGONTROL, MELAKUKAN PENGAWASAN, DAN KODE ETIK PSIKOLOGI.
KALIAN PSIKOLOG YANG COMENT JUGA GAK TAHU DIRI, KLO KALIAN JENIUS PASTI BUAT ALAT TES SENDIRI. BIKANKAH DI S2/PROGRAM PROFESI KALIAN DIAJARI CARA BIKIN ALAT TES YANG VALID DAN RELIABEL?
KALIAN MEMALUKAN!
Hot debate. What do you think?
6
3
49
Peace maker
// Jan 23, 2010 at 8:20 am
Psycho-test?make me frustrated,,huhhh….I hate it, often failed if facing this fuckin’ case..hauauauauua
Like or Dislike:
2
0
50
The Viking
// Jan 29, 2010 at 1:57 am
Hidden due to low comment rating. Click here to see.
Poorly-rated. Like or Dislike:
0
3
51
dean
// Jan 30, 2010 at 1:59 pm
ada-ada saja….
Like or Dislike:
1
0
52
bejo
// Feb 1, 2010 at 10:17 pm
saya kok skeptis dengan psikologi ya…jiwa itu apa?apa relasi antara jiwa dan tubuh?manusia itu apa? tiap dekade teori psikologi gonta-ganti. saya jamin freud-boss-victor f-jung tak akan sepakat untuk proposisi dasar diatas…manusia yang tak tau siapa dirinya mencari tau dengan akalnya yang tak tau siapa dia(kontradiksi). kenapa kita pertaruhkan hidup kita pada psikologi…Interpretasi setiap aliran psikologi akan saling berbeda bahkan bertentangan.
Like or Dislike:
0
0
53
Ogura
// Feb 2, 2010 at 10:31 am
@Peace Maker : dalam test Psikologi, there are no right or wromg answer. jadi jangan takut untuk gagal dalam test, test ini untuk mengukur inteligensi kamu.. bukan melihat apakah kamu sudah pantas untuk lulus atau blom dalam suatu test. yang pastii, kerjain aja sebisa mungkin.
Like or Dislike:
3
2
54
kincun
// Feb 3, 2010 at 11:12 pm
ayu,risma kncn ma aq aj yuk..
Like or Dislike:
2
0
55
nasrul
// Feb 4, 2010 at 10:48 am
indonesia .. indonesia ..
sesama psikolog koq berantem …
kalian cuma ngomong di sini aja ..
di tindak donk .. jgn cuma ngomong ganti pengurus HIMPSI..
kalian belum tentu aktif di organisasi tsb ..
Like or Dislike:
0
0
56
rina
// Feb 5, 2010 at 2:21 am
well,,,heboh banget yah pada ngomongin Psikotest…
Klo saran saya, sebaiknya ilmu psikologi mengembangkan ilmunya untuk bisa menghasilkan penelitian atas kepribadian manusia agar hasilnya bisa lebih reliable…
Dan menurut saya, hasil psikotest kita hari ini dengan satu tahun mendatang pun pasti akan berbeda, karena kepribadian manusia pun akan berubah seiring dengan terjadinya berbagai hal dalam hidupnya….
UNTUK YANG PADA MARAH-MARAH KARENA MERASA PROFESINYA DIRUGIKAN….saya cuma mau tanya??kalo memang hal ini melanggar kode etik, kenapa di majalah-majalah wanita terkenal banyak sekali tes-tes psikologi, dan sangat jelas diberitahukan makna dari setiap jawaban..??Berarti mereka sangat-sangat melanggar kode etik dong?? heheheheh…
Like or Dislike:
1
1
57
fiza
// Feb 5, 2010 at 10:12 am
numpang komen yah…
saya salah 1 mhsiswa psikologi, kalo saya melihat tulisan dari melisa ini, saya rasa gak ada yang salah yah karena yang dia tulis di sini hanya berupa informasi tentang alat tes dan semua itu bisa kita dapat lewat buku2 psikologi yang biasa dijual di toko buku. so, siapapun bisa saja membacanya lewat buku,
apakah yang baca bisa dikatakan melanggar kode etik ???
dan yang saya tau, melisa dikatakan melanggar kode etik itu ketika dia adalah seorang psikolog atau ilmuwan psikologi yang membocorkan alat tes kepada pihak lain.
jika dia bukan dari psikologi maka, tidak bisa dikatakan melanggar kode etik psikologi tetapi kode etik profesinyalah yg dia langgar, jika betul dia melakukn hal itu. tapi sya rasa tulisan ini gak ada masalah..
saran saja, jangan terlalu cepat melakukan judge trhadap orang lain…
lebih bik damailah, supaya hidup ini more beautiful…
Well-loved. Like or Dislike:
4
0
58
No name
// Feb 10, 2010 at 1:10 am
To Risma, Ayu, Putri :
Kalian sebenarnya tahu tidak maksud tulisan ini?
Saya rasa kalian ini mahasiswa Psikologi yang maaf sudah DO atau bekerja dengan company yang terancam hancur saya rasa…
Kalian psikolog amatir…
Like or Dislike:
4
2
59
taurus
// Feb 10, 2010 at 2:06 pm
rekans,
psikotes hanyalah salah satu alat bantu psikolog untuk dapat mengetahui dinamika kepribadian individu. selain itu, kegunaan psikotes juga tergantung pada ‘tujuan’nya untuk apa. katakan untuk seleksi atau klasifikasi, masing-masing jabatan itu punya deskripsi jabatan masing-masing, bahkan jabatan yang sama, aspek-aspek psikologi yang dibutuhkan bisa saja berbeda untuk perusahaan yang berbeda. … so jangan percaya atau terkecoh dengan bimbingan psikotes dan sebagainya. kerjakan sesuai dengan apa yang ada diri anda. biar kalau dapat pekerjaan, sesuai dengan potensi kita. kerja tenang, perusahaan senang… dan akhirnya, karir cepet nanjak.
yang jelas, psikologi tidak hanya sekedar psikotes saja.
Like or Dislike:
1
0
60
Kisa
// Feb 10, 2010 at 8:59 pm
Makasih banget ya.. tadinya gw masih belom mudeng maksud dari psiko test itu apa. Informasinya berguna sekali bagi orang awam…. Tetaplah menjadi diri sendiri.
Like or Dislike:
3
0
61
cznarockstar
// Feb 12, 2010 at 8:32 am
Melihat banyaknya komentar di sini, sebagai mahasiswa Psikologi rasanya tergelitik untuk memberikan komentar.
hal-hal yang diatas memang benar, tapi ada juga yang memang belum tepat tapi saran saya, untuk melakukan tes psikologi kunci nya ialah dengan tidak mengikuti nasihat buku-buku atau informasi yang simpang siur, tapi mengerjakan dengan kemampuan sendiri akan lebih efektif karena kepribadian yang nantinya akan didiagnosa dapat terlihat apakah itu genuine atau palsu, terlepas dari itu ilmu psikologi memang suatu ilmu yang dapat dipelajari secara terbuka, kita akan dapat mempelajarinya hanya dengan membaca buku2 teori, tapi butuh keterampilan2 khusus untuk menjadi seorang psikolog sejati, buku2 tidak ada artinya bila kita tidak memiliki sense kemanusiaan dan kode etik tentunya. Mudah2an informasi dari saya dapat bermanfaat.
Like or Dislike:
1
1
62
Tantri
// Feb 17, 2010 at 2:18 am
apakah yang menulis itu orang yang benar – benar memiliki profesi di bidang psikologi atau hanya orang awam yang yang banyak membaca tentang mengenai alat tes psikologi secara umum aja, klo emang dia orang yang bekerja dibidang psikologi dia menyalahi kode etik, dunia psikologi tapi kalo dia orang awam yang tidak tau berarti dia so you know and kalo psikolog menulis tentang alat tes pasti ada batas – batas tertentu. dari jelas tulisan itu emang menyesatkan jadi jangan diikutin.
Like or Dislike:
1
3
63
ditto
// Feb 28, 2010 at 1:48 am
Orang awam said : ada yang nyerobot Jobdesk nya HRD team,recruitment team,etc neh… tuch khan rejeki orang.. aq sedih…
Like or Dislike:
0
0
64
Golput
// Mar 4, 2010 at 11:14 pm
Koq komennya jd kluar batasan gini?
Apapun alasan yg dikeluarkan pihak praktisi psikolog atau awam, alangkah bijaknya jika Melisa memperhatikan masukan2 yg masuk.
Saya juga belajar Ilmu psikologi. kekhawatiran yg keluar dr pihak yg mempermasalahkan tulisan ini (selain melanggar kode etik) mungkin mengkhawatirkan keberadaan jangka panjang seseorang pada posisi kerja yg didapat dr “memodifikasi” jawaban psikotes agar cocok u/ posisi tsb.
Kalo toh, sampe ada yg bisa ngpas-pasin jawaban ssuai jabatan yg dipinginin, sedangkan kemampuan sbenarnya tidak memungkinkan, maka bakal ketauan di level wawancara atau praktek kerja. dan kalopun masih lolos. Kualitas kerja kalian nggak akan maksimal. Bisa-bisa ngerasa tertekan, penat, dan pingin keluar dari kerjaanmu. Na-lo.. kasus kayak gini baru krasa pada tataran waktu yg cukup lama.
Bayangin aja, kalo udah kerja 5 tahun trus bner2 gak kuat n Out/ malah2 dikeluarin, Sapa yg susah buat cari kerja lg?
Psikologi hadir bukan untuk mempersulit anda. Tapi memudahkan anda untuk mendapatkan tempat paling sesuai dengan minat, bakat, or kemampuan anda..
Saranku sih.. daripada nggugel ksana kmari, mending dateng aja ke pusat2 layanan psikologi, trus minta saran tetang posisi pekerjaan yang sesuai dg kapabilitas anda. Pasti lebih dijamin bisa lolos seleksi pekerjaan yg paling cocok untuk anda..
OK smuanya?
Salam damai, ya! Dan percaya bahwa kita adalah spesial dengan apa yg kita miliki. Jangan iri dengan apa yg bisa didapat orang lain. Kita bisa lebih sukses dari mereka, hanya saja kita harus tahu kemana harus melihat.
Like or Dislike:
2
1
65
akuaku
// Mar 9, 2010 at 2:20 am
buat teman2 yang ada sudah coment disini…
biar comentnya lebih bermakna dan bisa memahami perasaan masing2 pihak (bauk yang tersakiti maupun tidak)…
ada baiknya teman teman sekalian belajar ilmu psikologi yang sebenarnya dan di tempat yang benar.
biar kita tau bagaimana prosesnya sampai suatu alat tes bisa digunakan…
Like or Dislike:
0
0
66
Remo
// Mar 9, 2010 at 2:31 am
Proses pembuatan alat ukur tidak semudah yang kalian pikir teman-teman. Membutuhkan proses pengujian statistik terhadap validitas, reliabilitas, serta analisis item. Belum lagi memastikan apakah norma-norma dalam penyusunan alat ukur tersebut sudah benar-benar representatif untuk semua kalangan. Prosesnya sangat-sangat kompleks. Landasan teori yang membangunnya pun harus benar-benar jelas dan kuat.
Jangan samakan dengan kuesioner-kuesioner yang ada di majalah. Itu hanya dibuat sebagai daya tarik saja, konstruksinya sangat-sangat ilmiah dan hasilnya tidak bisa dipercaya.
Lagi pula, hal yang mendasari mengapa alat ukur di atas tidak boleh dipublikasikan secara luas karena hasil tesnya nanti tidak mampu lagi menggambarkan kepribadian pengguna tes. Sebab pada dasarnya dalam tes-tes di atas tidak ada jawaban yang salah. Ketika kita kita menjawab pertanyaan tidak sesuai dengan diri kita yang sesungguhnya maka fungsi alat ukur itu tidak ada lagi. Tetapi silahkan saja, karena pada dasarnya setiap alat tes tersebut mampu mendeteksi seseorang yang melakukan faking
Like or Dislike:
0
0
67
Remo
// Mar 9, 2010 at 3:30 am
maaf maksudnya tulisan di majalah itu sangat tidak ilmiah
nb : faking = berpura pura
Like or Dislike:
0
0
68
ayah
// Mar 9, 2010 at 8:47 pm
sebenarnya semua sudah ada lajurnya. klo semua mau mengerti dan tidak saling ego, info diatas bisa dijadikan sebagai pembuka wawasan bagi yang awam terhadap psikologi. nyatanya banyak buku-buku tentang tes psikologi, itu aja yg seharusnya dilarang klo meruntut tentang kode etik psikologi… iya ga gan?
Like or Dislike:
0
0
69
yuuukkkk
// Mar 11, 2010 at 9:25 am
psikolog jg manusia koq, bukan Tuhan, yg pke ilmu pasti..
hehehehe….
damai ah,
udh ada jalannya masing”, skedar info ga masalah.. yg penting tidak disalahgunakan, toh memang manusia kan rasa ingin tahu nya tinggi
Like or Dislike:
0
0
70
ALGA
// Mar 11, 2010 at 10:54 pm
Saya juga salah satu orang yg berasal dari bidang psikologi. Terus terang, banyak sekali ilmu yg saya peroleh ttg psikologi justru ketika saya sudah terjun langsung ke lapangan, termasuk ttg alat2 test (tau lengkap ketika kerja di BIRO PSIKOLOGI), krn di kuliah tdk bnyak alat test yg diajarkan. Bbrp komentar yg ad mngkin tdk perlu dilihat dr bbrpa sudut pandang. Kami, para psikolog, memang “dianjurkan” utk tdk memberikan hal2 yg shrusnya tdk “dibocorkan”. Namun, di jaman yg srba canggih bgini…alat test apapun, trnyata mudah skli didapatkan trutama lewat internet. Tdk perlu jauh2…diantra kita, mgkin ad yg prnah “membantu” org2 “dekat” kita utk “lolos” mnghadapi test psikologi. Namun prlu dsadari jga…alat test yg bgtu banyak, satu sama lain sling melengkapi. dan brdsarkan pnglaman sya sbg tester, sbrapa bnyaknya latihan…(memanipulasi), sbnrnya kecendrungan seseorang tetap akan dpat “dinilai”. lagian, utk alat test psikologi kan gk brdiri sndiri,..if masuk krja mash ad interview, dll. Tdk prlu org awan psikologi, kadg sya jga prnah koq,…gak lolos psikotest di suatu prushaan. pdhal alat test yg digunakan sma persis dg alat test yg sya gunakan klo lgi rekrut krywan. So…???apa msih prlu kita “brdebat” lagi???
Like or Dislike:
0
1
71
bunga
// Mar 13, 2010 at 10:18 am
Hidden due to low comment rating. Click here to see.
Poorly-rated. Like or Dislike:
1
5
72
freshtea
// Mar 16, 2010 at 9:22 am
psikolog jg jgn merasa orang yg paling ahli dalam menilai kepribadian, krn kepribadian tdk mudah utk diketahui, yg tau diri kita hanyalah Tuhan dan diri kita sendiri, jadi psikolog jgn hanya tukang ngetes IQ & kepribadian yg paling penting perannya dalam psikoterapi.Banyak profesi lain yg jg mampu menilai kepribadian secara tidak langsung. So dont feel so superior.Ok!
Like or Dislike:
3
2
73
nelwandi
// Mar 17, 2010 at 12:06 am
mba melisa, commentnya udah panjang. tapi mudah-mudahan mba melisa baca tulisan saya.
coba cek:
http://en.wikipedia.org/wiki/Personality_and_Preference_Inventory
http://en.wikipedia.org/wiki/Edwards_Personal_Preference_Schedule
cek bagian copyright masing-masing artikel.
setahu saya semua alat tes yang mba posting memiliki hak cipta,
tinggal tanya mbah google aja.
hormatilah HAK CIPTA orang lain.
Like or Dislike:
2
0
74
sammy
// Mar 17, 2010 at 2:57 am
kode etik psikologi harusnya diubah, sekarang semua orang bisa mempelajari apa saja di internet..
Like or Dislike:
0
1
75
Bambang Iman Bakti
// Mar 19, 2010 at 12:29 pm
Ya seru ya perdebatannya.Sebelumnya kenalkan dulu, aku seorang psikolog alumni UGM thn 73, udah pensiun dari RSJ Pontianak, dan kebetulan aku juga Ketua Majelis Wilayah Himpsi Kalbar…tertarik untuk mencoba memberi pandangan ttg kasus ini. Kalau dicari benang merahnya ttg kebocoran alat test ini, mungkin ceritanya nggak habis2, ttp dari pengalaman praktek ngetest calon pegawai, diantaranya banyak juga yg profesinya psikolog, dapat dikatakan psikotest ini aku yakin sisa satu2nya alat pemeriksa yg terbilang lebih obyektif dibandingkan alat test lainnya, kalaulah hasil psikotest ini dipakai oleh si pengambil keputusan. Jadi saya mrs bangga dng profesi kami, krn nyatanya secara statistik, jarang sekali ada psikolog yang sampai jadi headline krn malpraktek atau personalitynya mengarah ke kriminalitas sampai tingkat Nasional, kalaulah dibandingkan profesi lainnya…Ada hal yang perlu kami sampaikan terutama masyarakat yang non psikologis. :1. Alat2 Psikodiagnostk/Psikometri/Psikotest ini proses membuatnya memerlukan biaya yang sangat besar, perlu dibuktikan validitasnya serta reliabilitasnya sampai tingkat Nasional, dan untuk membuat Norma Test yang sesuai dengan tingkatan jenis kelamin, pekerjaan, usia dll, harus diujicobakan keseluruh daerah di Indonesia.
2. Pemerintah mensubsidi research dan pengembangan alat test Psikologi melewati PTN/PTS yang terakreditasi di mana itu semuanya uang dari Rakyat, karena biaya pembuatan satu alat test adalah bisa Milyard.
3. Bila Fakultas membeli Alat test Psikologi dari Luar, alat tsb hrs diadaptasikan dulu apkh cocok dengan persyaratan, budaya, lingkungan dan banyak sekali faktor2 extraneus variable yang dikondisikan spy bisa dipakai di sini (Ya perlu juga biaya yg banyak), makanya tempat penjualan alat2 Psikotest hanyalah Di PTN/PTS serta Biro Konsultasi Psikologis yang terakreditasi. Seorang Psikolog Profesi sekalipun belum tentu bisa membeli alat test, kalaulah dia belum punya Kartu Anggauta Psikologi dan Sertifikasi Psikolog.
4. Terlepas dari masalah internal di Himpsi atau profesi Psikologi, saya pribadi sebetulnya kasihan kpd teman2 yg krn ingin tahunya, dan ambisi untuk lulus sampai membeli Buku Mensiasati Psikotest dlsbnya, krn Psikotest tsb nggak semudah persangkaan orang awam untuk mensiasati…..dapat saya katakan Psikotest adalah alat yang tidak bisa disiasati/diakalin. Ada banyak type Psikotest yg cara menilainya justeru dinilai minus, kmdn hampir 80 % jawaban tidak ada yg benar dan salah, hanya kami yg bisa menginterpretasikan.
5. Untuk mempertahankan tingkat validitas dan taraf signifikansi dari alat Psikotest, ada system saling recheck, misalkan test Inteligensi dpt direcheck oleh test2 proyeksi ataupun test prestasi, test bakat dan sebaliknya. Yang terjadi kita akan membuat tanda besar kalaulah ada seseorang yang sangat bagus IQnya ttp setelah kita recheck dng test kepribadiannya ternyata adlh tidak mungkin pribadi tsb ber IQ tinggi, dan kalaulah terjadi kasus demikian semua Psikolog akan berpedoman pada interpretasi test kepribadiannya, yang nggak mungkin bisa diakali, bahkan oleh seorang Psikolog sekalipun. Tidak jarang seseorang yang sangat cerdas tidak lolos psikotest, karena aspek kepribadiannya terlampau banyak hambatannya.
Oleh krn itu, kami sarankan janganlah mempelajari Psikotest, krn Psikotest percuma saja dipelajari, akan sedemikian mudahnya di mata Psikolog yg ahli nampak kelemahan2nya. Jadi singkatnya semua Psikolog lbh menitik beratkan aspek2 mentalitas individu, dan kita anggap semua orang yang bisa lulus SMA pastilah IQnya rata2, ttp faktor kedewasaan pribadinya yang nanti menentukan lolos atau tidaknya Psikotest bukanlah seseorang yang bermental mencari fasilitas kemudahan yang dicapai dengan segala cara.
7. Kalaulah ada terbersit, kenapa kok Pegawai Negeri, Militer dll, yang udah dapat Psikotest mentalnya masih kurang, perlu kita jelaskan bahwa kami menerima order dari Instansi dll, setelah laporan kita kirimkan yang menentukan bukan kami lagi…..Ya sering yang jelas2 tidak kita lulusin malah diterima dsb, sekali lagi penentunya adalah ditangan si pembuat order.
Salam……Mudah2an bisa dipahami, bukannya Profesi kami tidak bisa membuat alat test sendiri, ttp untuk membuat alat test yang baku dan berstandard Nasional, biayanya sangat mahal, dan subsidi dari Pemerintahpun sangat terbatas…Mohon toleransi kenapa alat test Psikologi itu masih dari zaman kuda gigit besi tetap sama, krn Psikotest bukanlah soal2 ujian semester/nasional yang sekali pakai….yang kuncinya udah banyak bocor….yg mirip dengan itu, hanyalah test inteligensi, ttp test bakat, test prestasi, test kepribadian, test klinis hampir semuanya tidak bisa diakalin, sedangkan yang merupakan materi buku pedoman psikotest tsb mengajari anda ttg test Inteligensi….
Mudah2an ada jiwa besar dari temen2 semuanya.
Like or Dislike:
3
3
76
lena
// Mar 22, 2010 at 9:56 pm
untuk teman2 dari psikologi, santai ae.aku sudah baca keterangan yang di atas, cuman garis besarnya ae.toh dia ga bahas interpretasinya…
hal no 2, untuk temen2 yang lagi cari kerja, psikotest memang penting, tapi yang jadi titik tolak orang di terima/tidak dlm suatu perusahaan, bukan hanya psikotestnya.tapi banyak hal.seperti budaya perusahaan dll. psikotest cuman di pake untuk melihat kepribadian orang,cocok tidak sama budaya perusahaan. kalo tidak cocok, juga percuma. karena biasanya perusahaan mencari orang yang bisa mengikuti budaya perusahaan ,sehingga di harapkan kerjanya bisa lama. jadi ga bolak balik cari karyawan baru..gituu..salam.
Like or Dislike:
1
1
77
pipiet
// Mar 24, 2010 at 12:13 am
sebenarnya, sekalipun teman2 selain psikolog mpelajari (hapal banget) dg kunci jawaban psikotes, tetep ajah ga bisa mengubah hasil psikotesnya. karna ada beberapa hal, yang bahkan saya sebagai psikolog ga bisa mengubah hasil psikotes saya (padahal udah belajar interpretrasinya). jadi saran saya…tetap yakin pada kemampuan diri kalian, usahakan fokus n fit saat harus psikotes. caio…
Like or Dislike:
2
1
78
burkass
// Apr 5, 2010 at 9:39 pm
Aku copy ya artikelnya ntar tak kasi link originalnya. Kalau mbak melisalin keberatan silahkan dicomment dan akan saya buat private. Thanks
Like or Dislike:
0
0
79
Kopi
// Apr 11, 2010 at 6:29 am
Psikotes 2 jam bisa menilai pribadi berumur tahunan?
Like or Dislike:
2
1
80
keemool
// Apr 14, 2010 at 10:39 pm
mana nih si ayu ma si risma….. dasar yah tipe2 org orde lama…..ilmu pengetahuan itu harus dibagi. ini ga ada hubungannya ama kode etik. evaluasi diri deh. jgn ngaku2 psikolog klo masalah ginian aja diributin. melisa gk melakukan kesalahan apapun, apa yg dilakukannya masih wajar2 aja. jd jangan mengada-ngada deh nuduh2 org seenaknya.
Like or Dislike:
1
1
81
trix
// Apr 20, 2010 at 10:38 pm
tuuuuulllll…
psikolog tuh sotoy…seneng-nya ngotak2in orang berdasarkan buku kuningnya yg udah outdated…
emangnya kita otak2 ^^
manusia tuh kompleks…bisa berubah tergantung stimulus psikis tertentu..
maju terus…jgn pikirin apa kata hasil psikotes luw…pekerjaan apa pun klo gak dicoba gak bakal tau hasilnya… ^^
Like or Dislike:
3
2
82
lena
// Apr 21, 2010 at 1:29 am
sebenernya,saat penerimaan, kita, bagian penerimaan karyawan,tidak hanya melihat psikotestnya saja.tapi juga ada interview…juga ada observasi…
orang selalu takut pada psikotest.padahal psikotest itu hanya melihat orang itu,apa menguasai bidang yang di lamar?? apa sesuai dengan culture budaya perusahaan?
jadi,saranku,kalaupun tidak di terima,jangan lantas pengen belajar psikotest.masalahnya bukan pada psikotest.tapi mungkin saudara tidak akan kuat menghadapi budaya perusahaan tersebut….yang artinya,kalaupun ketrima kerja ( karena sudah belajar psikotestnya), saudara tidak akan berada lama di perusahaan itu.karena saudara tidak nyaman di perusahaan itu,karena tidak sesuai dengan culturenya…
tolong jangan bertengkar di forum ini.ga ada gunanya. perbedaan pendapat selalu ada.tapi gimana cara kita mengatasinya itu yang penting to??belajarlah dewasa.jangan bertengkar terus… ingat dewasa bukan artinya usianya sudah banyak.dewasa artinya berhikmat. bisa mengatasi berbagai masalah dengan KEPALA DINGIN. BUKAN DENGAN HATI PANAS
Like or Dislike:
1
3
83
meeyra
// Apr 23, 2010 at 1:34 am
melissa,,,,,
thanks ya dah mo share ilmu……..
sbnrnya ga usah takut dgn kebocoran soal,,,ini kan sekedar just to know..yang baca (misalnya saya) juga belum
tentu bisa aplikasiinnya ketika saya mengisi tes padahal saya sudah tau……..
yang ahli tes yah emang psikolog,,,jadi para psikolog jangan takut dirugikan oleh tulisan ini coz yang paling mengertikan kalian semua,kalian tau teori dan prakteknya dengan pas…….dan kami pembaca hanya sekedar tau sajaa….
ok sist……
buat melissa thanks ya atas informasinya,,,,saya yakin ini akan bermanfaat buat semua yang baca….jangan takut untuk menulis….
jiaaayouuuuuu cece……..
Like or Dislike:
1
0
84
uzumunear
// May 21, 2010 at 10:58 pm
kkaka
kok pada berantem.
psikotes yang diterangin kak melisa kan cuman yg berupa angket dimana kbanyakan psikotes kyak gt.brarti mutunya rendah.ga ngeliatin kpribadian sbgaimana mstnya.
wajar aja banyak yang komplen sampe jebol2 kode etik.
berdoa dan berikhtiar.
yang haram cuma daging babo aja,minyak babi nya engga kok.
gakgak
Like or Dislike:
0
0
85
Bumi
// May 22, 2010 at 11:28 pm
hahahaa….
saya terhar melihat perdebatan yang absurd dan gak jelas mana pangkal dan ujungnya. Setahu saya, cara PEMANUSIAAN adalah dengan berfikir positif, tapi.. ternyata masih banyak yang “lali jiwo” dan bahkan masih dikendalikan emosional. Bagi mereka yang mengaku profesi sbg Psikolog, kenapa hars pesimis, khawatir dan bahkan ketakutan kalau kode etik mereka dilanggar. kenapa kalian berfikir kalau ruang ilmu kalian gak boleh diakses sama orang lain. itu hak asasi Bung/Mbak. Kenapa kalian mengkotakkan diri kalian dan bahkan mengeksklsifkan diri kalian bahwa psikologi hanyalah ilmu bagi kalian. Bahkan, syaa tersenyum kasian saat membaca comentar diatas yang nyinggung :”ORANG MALAYSIA”.. itu fikiran SUBJEKTIF…dan bukanlah disarankan seorang PSIKOLOG punya pikiran kaya Gitu. MELISA itu hanya sebagai informan disini. Bukan pembajak. Yang kalian takutkan itu apa? ternyata pola pikir (mengaku dirinya) PSIKOLOG yang berkedok BERDASAR KODE ETIK masih dikulum pikiran konvensional, kolot, negatif dan subjektif. Jangan pernah memonopoli ilmu BUNG/MBAK !!! Psikologi itu untuk MEMANUSIAKAN MANUSIA. HRD itu cuma lapangan kerja. bukan rumah KEPEMILIKAN kalian. bekerjalah sebagai orang yang memberi SOLUSI bukan malah mengais PAMRIH.
Like or Dislike:
3
1
86
NEED IMMEDIATELY and A.S.A.P
// May 25, 2010 at 12:24 pm
saya sedang mencari buku/soal/alat Psikotest keluaran Universitas Indonesia (UI)/Universitas Lain untuk ngebantu adik saya Masuk kerja.
Yang saya butuhkan yang selengkap-lengkapnya ya.(Baik yang test Hitung2an,menggambar,test kepribadian dll)
kalo ada yang punya,silahkan hub saya di mr.silent_knight@yahoo.co.id
Like or Dislike:
0
0
87
angga wirautama
// May 25, 2010 at 1:44 pm
ngedabruzzz smua..wong cuman nulis pendapat aj,,jwabnny sok pinter smua,..itukan blognya melissa sndiri.sk2 dia dunk nulisny ..
Like or Dislike:
2
0
88
michael
// Jun 9, 2010 at 3:06 am
wah gara gara lagi brows untuk salah satu alat tes intelegensi malah jadi nemu ginian. Saya baru tau klo ada perdebatan soal ini dan saya punya beberapa pendapat :
1. TS tidak bisa dikatakan melanggar kode etik. Sekilas memang terlihat seperti itu tetapi TS toh tidak membocorkan kunci jawaban setiap alat tes (serta interpretasinya), bahkan klo kita rajin browsing ke situs situs tertentu, ada yang lebih lengkap lagi informasinya
2. Psikotes itu tujuan awalnya adalah menggali potensi dari seseorang (entah itu bakat atau minat, contohnya kayak penjurusan waktu SMU) jadi kalau ada seseorang yang berulang kali gagal di psikotes, mungkin orang tersebut tidak (atau belum) memiliki bakat untuk posisi yang di lamar.
3. Kalau ada yang bilang psikotes cuma beberapa jam emang bisa tau kepribadian kita seumur hidup ? well sangat ga mungkin ada alat tes yang bisa kayak gitu. Maka dari itu psikotes digunakan untuk menggali sebagian besar (bukan semua) potensi / minat / bakat / kepribadian seseorang untuk dinilai apakah mereka cocok untuk posisi yang mereka inginkan. Contoh : ada seseorang yang senang bergaul, suka bersosialisasi, aktif, senang bertualang tapi melamar untuk posisi back office atau akunting yang penuh dengan rutinitas. Anda ga mau kan kalau bekerja disuatu bidang yang tidak anda minati ? atau yang tidak anda kuasai ? Lagipula hasil dari psikotes itu nanti diperkaya dengan observasi dan interview lanjutan. Jadi jangan terlalu fokus ke psikotesnya guys.
4. Tips buat psikotes itu dari dulu sama : jangan lupa sarapan dan istirahat ! Kenapa ? ya biar nanti ketika mengerjakan psikotes anda berada dalam keadaan yang fit, bisa berpikir jernih, bisa konsentrasi, sehingga kemampuan anda bisa keluar secara maksimal. Kalau sehari sebelumnya begadang atau paginya ga sarapan, tau sendirilah ya efeknya
Saya ga bermaksud sok bijak atau sok pintar. Background saya juga psikologi dan saya merasa prihatin banyak sekali kasus kebocoran alat tes (baik soalnya maupun jawabannya). Padahal psikotes bukan final decision dalam menentukan apakah anda diterima dalam suatu pekerjaan atau tidak, masih banyak faktor lain. Ini semua murni pendapat saya dan saya terbuka untuk setiap masukan atau kritik atas tulisan saya. Thx
Like or Dislike:
0
1
89
ores
// Jun 21, 2010 at 10:49 pm
Terlihat perdebatan yang tak ada ujung dan intinya. Prasangka dan subjektifitas dalam komen ini lebih kental…jadi bicara inti masalah bukan utamanya. Jadi, yg dibahas bukan lagi ttg tulisan melisa…..tapi….(silahkan isi sendiri):>
Like or Dislike:
0
0
90
budi
// Jun 22, 2010 at 12:35 am
jangan2 ini konspiracy…
terserah deh yang penting page one meski ga pertamax
hehehehe….
Like or Dislike:
0
0
91
yuli
// Jun 26, 2010 at 3:00 am
hai,
terlepas dari perdebatan diatas, aku cm mau share aja. aku sdh tes psikotes beberapa minggu yang lalu dan hasilnya sudah keluar.
Hanya saja, aku bnr2 shock dgn hasilnya yg mana bbrapa memang “gue banget” dan bbrapa tidak. mnurut aku, tes ini hanya mengambil kesimpulan 1 hari ttg kita saja, mungkin salah mungkin benar.
contohnya jg, pd saat tes menggambar. bagaimana halnya dgn org yg tdk bs mnggambar sama sekali? dikatakan tdk kreatif dan inovatif. saya sangat tdk setuju.
sy merasa smnjak ada tes ini, sy yg dulunya pribadi yg confidence, ga pnh minder, skrg mnjadi minder dan malu.
apakah tes ini sebegitu pentingnya pd saat memasuki suatu perusahaan trtentu??
Like or Dislike:
1
0
92
Melisa
// Jun 28, 2010 at 2:19 pm
@Yuli : menurut saya iya, karena mereka perlu adanya gambaran awal tentang Anda (walapupun masih berupa taksiran)
Like or Dislike:
0
0
93
arif
// Jun 29, 2010 at 2:49 am
@melisa : saya salut sama mba melisa untuk thread yang sangat hot ini
, hehehe…untuk membahas dan sharing pengalaman dan pengetahuannya
@temen2 psikologi : Saya juga pernah belajar psikologi dan masih belajar psikologi (sekarang masih jadi praktisi di salah satu perusahaan asing), jadi saya tahu perasaannya kalau “ditelanjangi” (analoginya seperti pesulap yang ketahuan :p), tapi memang alat test yang disebut diatas itu sudah “agak tua”, dan memang yang sering dipakai oleh praktisi (baca HR Dept) itu memang alat test yang tersebut diatas. Tapi memang penjelasan ini masih “kulit luar” dan tidak sebanding dengan apa yang sudah kita pelajari. Kalau just share saya kira penjelasan seperti ini masih masuk dalam kategori wajar dan tidak berlebihan, karena boleh percaya boleh tidak, rata-rata karyawan kalau ngobrol pertama kali dengan HR baru pasti mengenai alat test, so cheer up and keep on fire guys.
Like or Dislike:
0
0
94
vic
// Jul 26, 2010 at 7:12 am
halah halahhhhhh gitu aja ko repot padahal semuanya itu ada di diri masing masing mba mas jadi tergantung dengan orangnya saja mau di manupulasi atau tidak ga ada yang sesempurna ciptaan allah jika yang 5% berkata keterima bekerja yah itu rejekinya jika tidak yah itu sialnya hehehhehehheh soryy coz ter lalu ramai niee hehheheh
Like or Dislike:
1
0
95
Ishaq
// Jul 31, 2010 at 1:11 am
Syukron Infonya ya Mba
wah bisa dipelajari nih
^_______________^
Like or Dislike:
0
0
96 Jenis Alat Psikotest yang Digunakan untuk Tes Masuk Kerja « Fortuneowner’s Blog // Jul 31, 2010 at 11:23 pm
[...] [...]
Like or Dislike:
1
0
97
Auzora
// Aug 1, 2010 at 10:14 pm
setujah sama VIC..
Like or Dislike:
0
0
98
cinta
// Aug 3, 2010 at 9:50 pm
salut deh buat bllognya, melissa,,buat ayu dan risma santai aja,,nga perlu emosi,,,itu menunjukkan siapa kalian,,,
Like or Dislike:
1
0
99
tha
// Aug 6, 2010 at 8:01 am
stres, besok psikotes CPNS Depkeu.
wish me luck
Like or Dislike:
0
0
100
Lea
// Aug 6, 2010 at 12:10 pm
Yg nyinggung: ‘org malaysia minta tes wartegg jgn dikasih’ lucu bget!
Wong tes wartegg jg bukn dr indonesia,dan yg kuliah psikologi dinegara manapun pst mempelajari alat tes ini.termasuk org malaysia.
Like or Dislike:
0
0
101
hudha26
// Aug 15, 2010 at 1:16 am
gitu aja kok repot…
yg tes tinggal tes…
yg ngetes tinggal ngetes…
karakter karyawan yang sebenarnya bisa keliatan kalo udah bekerja kok.
interpretasi dari para tester terbukti ga…???
toh manajemen perusahaan yg menentukan.
Like or Dislike:
0
0
102
kungfu boy
// Aug 22, 2010 at 7:08 am
AYU… ELU ITU PSIKOLOG YG GOBLOK…. & NORAK….
SEMUA YG DI TULIS DI INTERNET ADA KOK. ELU AJA YG BEGO !!!!! KALO BENER PSIKOLOG PUNYA TRIK YG LAEN, KENAPA KALO TES .. PASTI SOAL SAMA ?????
Like or Dislike:
0
0
103
Anak Sukses
// Aug 26, 2010 at 8:36 pm
Kalo saya liat mba AYU orangnya perfeksionis dan koleris … di dunia kerja dia gak pengen orang lain tau, tapi pekerjaannya pengen di sebut sempurna …. itu bisa diliat dari kata2 dia menyindir Melissa ….
Kode Etik tuh dibuat sebagai batasan agar seorang praktisi psikologi gak keluar jalur dari fungsi dia di bidang psikologi …
Toh saya pikir Melissa cuman ngasih tau tes apa aja yang biasa dilakukan di tempat kerja …. sah2 aja lah …. but ONLY JUST KNOW …. tidak lebih …. selebihnya mengenai urusan norma dan administrasi itu haknya Psikolog dan Sarjana Psikologi …. mereka gak boleh ngasih tw kepada orang bersangkutan asalkan ada ijin dari User dan testee….
Soo , saya pikir banyak koq blog-blog yang ngejelasin banyak sekali tes psikologi ….
Wong psikologi itu bukan Ilmu pasti ….
Like or Dislike:
0
0
Leave a Comment